Penetrasi Jepang Dan Dampaknya Terhadap Batik Pekalongan, 1930-1945

Satrya Paramanandana, Ismail Lutfi, Lutfiah Ayundasari

Abstract


Penelitian ini membahas mengenai penetrasi Jepang ke Hindia Belanda pada tahun 1930-1945. Jepang pada tahun 1930-an mulai mendominasi perekonomian Hindia Belanda terutama dalam hal ekspor kain. Selain itu pada tahun 1942, pendudukan Jepang menimbulkan krisis kain di Hindia Belanda. Penetrasi yang dilakukan secara ekonomi dan militer ini berdampak pada batik di Pekalongan. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan sejarah kebudayaan. Hal ini karena dalam artikel ini menyoroti morfologi budaya akibat penetrasi ekonomi dan militer Jepang. Perubahan ini terekam dalam batik Pekalongan periode 1930-1945. Pembahasan dalam artikel ini antara lain masa keemasan dan jatuhnya industri batik di Pekalongan pada 1929-1930, tren gaya batik di Pekalongan menjelang 1930, dan dampak penetrasi Jepang terhadap batik Pekalongan tahun 1930-1945. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetrasi ekonomi dan militer Jepang terhadap Hindia Belanda memengaruhi batik di Pekalongan dari segi ketersediaan kain untuk industri batik dan perubahan tren batik serta tata warna khas Jepang akibat selera pasar.

Keywords


Jepang; penetrasi; batik; Pekalongan

Full Text:

PDF

References


Angelino, P. de K. (1930). Batikrapport van P. de Kat Angelino.

Asa, K. (2006). Batik Pekalongan dalam Lintasan Sejarah. Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan.

Bruggen, M. P. van, Hering, B. ., Wassing, R. ., Voskuil, R. P. G. ., & Heshusius, C. . (1998). Djokja en Solo: Beeld van de Vorstensteden. Asia Maior.

Chattopadhyay, D. P. (2011). Azoic dyeing. In Handbook of Textile and Industrial Dyeing: Principles, Processes and Types of Dyes (Vol. 1, pp. 604–626). Elsevier Inc. https://doi.org/10.1533/9780857093974.2.604

Doellah, S. (2002). Batik: Pengaruh Zaman dan Lingkungan. Danar Hadi.

Elliot, I. M. (2004). Batik Fabled Cloth of Java (1st ed.). Periplus.

Fatiyah. (2016). Sejarah Keturunan Arab di Yogyakarta Abad XX. Magnum Pustaka Utama.

Furnivall, J. S. (2010). Netherlands India: A Study of Plural Economy (2nd ed.). Cambridge University Press.

Gondowinoto, I., & Merta, D. (2019). Batika: Jejak Batik Keluarga Gan Tjioe Liam (2nd ed.). Global Pustaka Utama.

Graaf, H. J. de. (1986). Puncak Kekuasaan Mataram : Politik Ekspansi Sultan Agung. Grafitipers.

Hadisoemarto, S., & Soetopo, S. (1953). Penuntun Batik. Balai Penjelidikan Batik Jogjakarta.

Haryono, A. (1990). Dari Keraton ke Pasar: Industri Pribumi di Daerah Yogyakarta 1830-1930-an. Humaniora, 21(1), 97–108.

Hayati, C. (2015). Batik sebagai Media Integrasi Sosial, Ekonomi, Budaya Masyarakat Kota Pekalongan. Jejak Nusantara, 03(2), 111–121.

Hwat, L. (1934). Recept-batik: Dari Kain Poetih sampe Djadi Batik jang Bagoes Djilid Kesatoe. Fortuna.

Hwat, L. (1950). Recept-batik: Djilid Ka III. Fortuna.

Ilyas, A. (2018). Industri Batik Pekalongan: Pergulatan Tanpa Akhir. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pekalongan.

Indisch Verslag. (1936). Gedrukt ter Algemeene Landsdrukkerij.

Ishwara, H. (2011). Batik Pesisir Pusaka Indonesia Koleksi Hartono Sumarsono. Kepustakaan Populer Gramedia.

Istari, T. M. R. (2016). Ragam Hias Non-Cerita Pada Relief Candi Untuk Perkembangan Motif Batik Kontemporer. Naditira Widya, 6(1), 64. https://doi.org/10.24832/nw.v6i1.84

Japan en Batik. (1934, July 9). Bataviaasch Nieuwsblad.

Jasper, J. E. (1923). De Eerste Pekalongansche Jaarmarkt-Tentoonstelling van Inlandsche Nijverheid en Kunstneijverheid in 1923. G. Kolff & Co.

Jasper, J. E., & Pirngadie, M. (1916). Inlandsche Kunstnijverheid in Nederlandsch Indie III : De Batikkunst. Mouton & Co.

Kramers, J. J., & van Wely, F. P. H. P. (1960). Kramers’ Engels Woordenboek : Engels-Nederlands en Nederland-Engels (26th ed.). Van Goor. http://lib.ugent.be/catalog/rug01:001802352

Kuntowijoyo. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Tiara Wacana.

Legawa, I. W. (2009). Gerakan Politik pada Masa Penjajahan Jepang. Sejarah Dan Budaya, 2(2), 31–47. http://training.um.ac.id/ojs/index.php/sejarah-dan-budaya/article/download/4707/1095

Lucas, A. (2020). Peristiwa Tiga Daerah (2nd ed.). Media Pressindo.

Malagina, A. (2018, February). Adiwastra Tiga Negeri. National Geographic Indonesia.

Manex N.V. Oldenzal. (1953). White Cambrics Twente Holland. Manex N.V.

Mulyawan, B. (2017). Batik Pekalongan dari Masa ke Masa. Bank Central Asia.

Murayama, Y. (1998). Pola Penetrasi Ekonomi Jepang ke Hindia Timur Belanda Sebelum Perang. In S. Shiraishi & T. Shiraishi (Eds.), Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara (pp. 138–177). Yayasan Obor Indonesia.

Nawiyanto. (2010). Matahari Terbit dan Tirai Bambu: Persaingan Dagang Jepang-Cina. Penerbit Ombak.

Nurhayati, F. (2018). Batik Pekalongan pada Masa Kolonial (1830-1945). Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Post, P. (2009). Indonesianisasi and Japanization: The Japanese and The Shifting Fortunes of Pribumi Enterpreneurship. In J. Lindbland & P. Post (Eds.), Indonesian Economic Decolonization in Regional and International Perspective (pp. 61–86). KITLV Press.

Post, P. (2010). The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War. Brill.

Pratiwi, E. (2013). Perkembangan Batik di Pekalongan Tahun 1950-1970. Universitas Negeri Semarang.

Purnomo, M. A. J. (2018). The Existence of Batik Esuk-Sore Pekalongan Style. 41(2017), 24–31. https://doi.org/10.2991/bcm-17.2018.5

Raffles, T. (1830). History of Java (2nd ed.). John Murray.

Rizali, N. (2018). Elements of Design in Batik Tiga Negeri, Lasem. 3rd International Conference on Education, Sports, Arts and Management Engineering (ICESAME 2018), 103–105. https://doi.org/https://doi.org/10.2991/amca-18.2018.29

Rouffaer, G. . (1904). De Voornamste Industrieen der Inlandsche Bevolking van Java en Madoera. Martinus Nijhoff.

Shiraishi, S., & Shiraishi, T. (1998). Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara: Sebuah Tinjauan. In S. Shiraishi & T. Shiraishi (Eds.), Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara. Yayasan Obor Indonesia.

Steun aan de Batikindustrie. (1936, March 2). Bataviaasch Nieuwsblaad.

Susanto, S. K. S. (1974). Seni Kerajinan Batik Indonesia. Balai Besar Kerajinan Batik.

Sutriyanto, & Kristanti, V. (2014). Kajian Visual Batik Hokokai Pekalongan Motif Lereng , Bunga Dan Kupu. Ornamen, Jurnal Kriya Seni ISI Surakarta, 11(2), 2–3.

Valen, L. Van. (2016). De strijd om de textielmarkt in Nederlands-Indië. Universiteit Leiden.

VAN DER ENG, P. (2013). Why Didn’t Colonial Indonesia Have a Competitive Cotton Textile Industry? Modern Asian Studies, 47(3), 1019–1054. https://doi.org/10.1017/S0026749X12000765

Veldhuisen, H. (2007). Batik Belanda 1840-1940: Pengaruh Belanda pada Batik dari Jawa Sejarah dan Kisah-kisah di Sekitarnya. Gaya Favorit Press.

Widjaja, W. (2020). Oey Soe Tjoen: Merajut Asa dalam Sejuta Impian (B. Mulyawan & S. Indriyani (Eds.)). Lembaga Kajian Batik.

Wie, T. K. (2013). The Indonesian Economy During The Japanese Occupation. Masyarakat Indonesia, 39(2), 327–340.

Wirodihardjo, S. (1954). Ko-operasi dan Masalah Batik. Penerbit Gabungan Ko-operasi Batik Indonesia.


Article Metrics

Abstract has been read : 807 times
PDF file viewed/downloaded: 0 times


DOI: http://doi.org/10.25273/ajsp.v11i2.8948

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya Indexed by: 

    

Copyright Agastya: Jurnal Sejarah Dan Pembelajarannya ISSN 2087-8907 (printed) , ISSN 2052-2857(online)

Lisensi Creative Commons
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya by E-JOURNAL UNIVERSITAS PGRI MADIUN is licensed under a  Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats